Instrumen Keuangan Adalah: Cek Fungsi, Jenis, dan Contohnya!

Oleh Hasna Latifatunnisa

25 January 2025

Article Image

Sekarang makin banyak orang mulai investasi. Ada yang beli saham di Bursa Efek Indonesia, ada yang pilih reksa dana, obligasi, deposito, bahkan emas digital. Tapi sebenarnya, semua itu termasuk dalam satu istilah besar: instrumen keuangan.

Sayangnya, masih banyak yang investasi tanpa benar-benar paham apa itu instrumen keuangan, bagaimana cara kerjanya, dan apa saja risikonya. Supaya nggak asal ikut tren, yuk pahami dulu konsep dasarnya sampai jenis-jenisnya secara lengkap!

 

Key Takeaways

 

  • Instrumen keuangan adalah alat utama dalam dunia investasi dan pendanaan. Saham, obligasi, reksa dana, SBN, hingga emas termasuk instrumen keuangan yang membantu uang berkembang sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
  • Setiap instrumen punya karakter risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda. Karena itu, penting memahami profil risiko sebelum berinvestasi.
  • Dengan belajar di Jurusan Keuangan dan Investasi Cakrawala University, kamu bisa dibekali kurikulum berbasis industri, magang sejak semester pertama, dan bimbingan dosen praktisi agar siap kerja di sektor keuangan modern.

 

Apa Itu Instrumen Keuangan?

instrumen keuangan adalah aset atau produk yang punya nilai dan bisa diperdagangkan untuk tujuan investasi atau pendanaan. Jadi, bukan cuma soal “beli dan jual”, tapi juga soal bagaimana uang bisa berkembang dan diputar dalam sistem ekonomi.

Sebenarnya, instrumen keuangan itu nggak serumit kedengarannya. Setiap kali kamu investasi, entah itu beli saham, reksa dana, obligasi, atau bahkan emas, kamu sedang menggunakan instrumen keuangan.

Contohnya, ketika seseorang membeli saham di Bursa Efek Indonesia, itu artinya dia ikut memiliki sebagian kecil perusahaan tersebut. Sementara kalau membeli Surat Berharga Negara (SBN), berarti dia sedang meminjamkan uang kepada pemerintah dengan imbal hasil tertentu.

Agar tetap aman dan transparan, seluruh aktivitas di sektor ini diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

 

Fungsi Instrumen Keuangan

Instrumen keuangan bukan cuma soal tempat naruh uang. Di balik itu, ada beberapa fungsi penting dalam sistem ekonomi dan investasi.

Berikut fungsi utamanya:

 

  • Sebagai sarana investasi: Instrumen keuangan membantu seseorang mengembangkan dana agar nilainya bertambah dari waktu ke waktu, baik melalui dividen, bunga, maupun capital gain.
  • Sebagai sumber pendanaan: Perusahaan bisa mendapatkan modal dari penerbitan saham atau obligasi. Pemerintah juga bisa menghimpun dana melalui Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai pembangunan.
  • Membantu pengelolaan risiko: Beberapa instrumen, seperti derivatif atau emas, sering digunakan untuk lindung nilai (hedging) saat kondisi pasar tidak stabil.
  • Diversifikasi portofolio: Investor bisa membagi dana ke beberapa instrumen berbeda untuk mengurangi risiko kerugian besar.
  • Mendukung pertumbuhan ekonomi: Ketika dana dari investor mengalir ke perusahaan atau pemerintah, aktivitas bisnis dan pembangunan bisa berjalan lebih cepat.

 

Jenis-Jenis Instrumen Keuangan

 

Instrumen Keuangan Adalah

Sumber: Freepik

 

Secara umum, instrumen keuangan dibagi menjadi beberapa kategori: 

 

Instrumen Kas/Tunai (Cash Instruments)

Instrumen kas adalah jenis instrumen keuangan yang nilainya terlihat jelas dan bisa langsung diperjualbelikan. Saat kamu membelinya, kamu benar-benar memiliki aset atau surat berharga tersebut. Instrumen ini paling sering digunakan dalam aktivitas investasi sehari-hari.

Berikut penjelasan lebih detailnya:

 

1. Saham

Saham adalah tanda kepemilikan atas suatu perusahaan. Jadi ketika kamu membeli saham, kamu resmi menjadi salah satu pemilik perusahaan tersebut, meskipun dalam porsi kecil.

Di Indonesia, saham diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia dan seluruh aktivitasnya diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Keuntungan saham bisa datang dari dua sumber:

 

  • Capital gain, yaitu selisih harga beli dan harga jual
  • Dividen, yaitu pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham.

 

Namun, harga saham bisa naik turun setiap hari. Karena itu, saham cocok untuk investor yang siap menghadapi fluktuasi pasar dan punya tujuan jangka menengah hingga panjang.

 

2. Obligasi

Obligasi adalah surat utang. Saat membeli obligasi, kamu sebenarnya sedang meminjamkan uang kepada penerbitnya, bisa perusahaan atau pemerintah. Sebagai gantinya, kamu akan menerima bunga (kupon) secara berkala dan pokok dana akan dikembalikan saat jatuh tempo.

Karena sifatnya utang, obligasi cenderung lebih stabil dibanding saham. Risiko tetap ada, terutama jika penerbit gagal bayar, tetapi umumnya lebih rendah dibanding instrumen ekuitas.

Obligasi sering dipilih oleh investor yang menginginkan pendapatan tetap dengan risiko yang lebih terkontrol.

 

3. Reksa Dana

Reksa dana adalah instrumen yang menghimpun dana dari banyak investor, lalu dikelola oleh manajer investasi profesional. Dana tersebut kemudian ditempatkan ke berbagai aset seperti saham, obligasi, atau pasar uang.

Kenapa banyak pemula memilih reksa dana? Karena:

 

  • Tidak perlu menganalisis pasar sendiri
  • Modal awal relatif terjangkau
  • Sudah otomatis terdiversifikasi

 

Reksa dana juga berada dalam pengawasan Otoritas Jasa Keuangan sehingga lebih terjamin dari sisi regulasi. Jenisnya pun beragam, mulai dari reksa dana pasar uang (risiko rendah) sampai reksa dana saham (risiko lebih tinggi).

 


 

Cek juga:

 

 


 

4. Deposito Berjangka

Deposito berjangka adalah simpanan di bank dengan jangka waktu tertentu, misalnya 1, 3, 6, atau 12 bulan. Selama periode itu, dana tidak bisa ditarik bebas tanpa penalti.

Bunga deposito biasanya lebih tinggi dibanding tabungan biasa dan nilainya tetap selama tenor berlangsung. Karena risikonya relatif rendah, deposito sering dipilih oleh investor konservatif yang mengutamakan keamanan dibanding potensi keuntungan besar.

Deposito cocok untuk tujuan keuangan jangka pendek hingga menengah.

 

5. Surat Berharga Negara (SBN)

Surat Berharga Negara (SBN) adalah instrumen utang yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia untuk membiayai APBN dan pembangunan nasional.

Karena diterbitkan pemerintah, SBN sering dianggap relatif aman. Investor akan mendapatkan kupon secara berkala, dan pokok dana dikembalikan saat jatuh tempo. Selain membantu investor mendapatkan imbal hasil, membeli SBN juga berarti ikut berkontribusi dalam pembangunan negara.

Contoh SBN ritel yang populer antara lain:

 

  • Obligasi Ritel Indonesia (ORI)
  • Sukuk Ritel (SR)

 

6. P2P Lending

Peer-to-peer (P2P) lending adalah platform digital yang mempertemukan pemberi dana (lender) dan peminjam (borrower) secara online. Sistem ini memungkinkan investor mendapatkan imbal hasil dari bunga pinjaman.

Di Indonesia, P2P lending resmi wajib terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Imbal hasilnya bisa lebih tinggi dibanding deposito, tetapi risikonya juga lebih besar, terutama risiko gagal bayar dari peminjam. Karena itu, penting untuk memilih platform yang legal dan melakukan diversifikasi pendanaan.

 

7. Emas Digital/Fisik

Emas sudah lama dikenal sebagai instrumen lindung nilai (safe haven). Saat kondisi ekonomi tidak stabil atau inflasi meningkat, harga emas cenderung lebih tahan dibanding aset lain.

Emas tidak memberikan bunga atau dividen, tetapi nilainya cenderung stabil dalam jangka panjang. Karena itu, emas sering digunakan untuk menjaga daya beli dan sebagai bagian dari strategi diversifikasi portofolio.

Sekarang, investasi emas bisa dilakukan dalam dua bentuk:

 

  • Emas fisik (batangan)
  • Emas digital melalui platform resmi

 

Instrumen Derivatif (Derivatives)

Berbeda dengan instrumen kas yang nilainya berdiri sendiri, instrumen derivatif adalah instrumen keuangan yang nilainya bergantung pada aset lain (disebut underlying asset). Aset dasarnya bisa berupa saham, obligasi, komoditas, mata uang, bahkan indeks pasar.

Instrumen ini biasanya digunakan untuk lindung nilai (hedging) atau strategi spekulasi. Karena sifatnya lebih kompleks, derivatif umumnya digunakan oleh investor berpengalaman atau institusi besar.

Berikut jenis derivatif yang paling umum:

 

1. Kontrak Berjangka (Futures)

Kontrak berjangka adalah perjanjian untuk membeli atau menjual suatu aset di masa depan dengan harga yang sudah ditentukan hari ini.

Misalnya, seorang investor membuat kontrak untuk membeli emas tiga bulan lagi dengan harga tertentu. Jika nanti harga emas naik, ia bisa mendapatkan keuntungan karena sudah “mengunci” harga lebih rendah sejak awal.

Karena melibatkan prediksi harga di masa depan, risiko futures bisa cukup tinggi jika pergerakan pasar tidak sesuai perkiraan.

Kontrak berjangka sering digunakan untuk:

 

  • Mengantisipasi fluktuasi harga
  • Melindungi nilai aset dari perubahan pasar
  • Spekulasi pergerakan harga

 

2. Opsi (Options)

Opsi adalah kontrak yang memberikan hak, bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu dalam periode waktu tertentu.

Keunggulan opsi dibanding futures adalah fleksibilitasnya. Jika kondisi pasar tidak sesuai harapan, pemegang opsi tidak wajib menjalankan kontraknya. Namun, ada biaya yang disebut premi yang harus dibayar di awal.

Instrumen ini biasanya digunakan untuk strategi lindung nilai atau strategi trading yang lebih kompleks.

Ada dua jenis opsi:

 

  • Call option, yaitu hak untuk membeli
  • Put option, yaitu hak untuk menjual

 

Instrumen Berdasarkan Sifatnya

Selain dibagi berdasarkan bentuknya (kas dan derivatif), instrumen keuangan juga bisa dikategorikan berdasarkan sifat atau karakter dasarnya, yaitu instrumen ekuitas dan instrumen utang.

Perbedaan ini penting karena berpengaruh ke hak, potensi keuntungan, dan tingkat risiko:

 

1. Instrumen Ekuitas

Instrumen ekuitas adalah instrumen yang menunjukkan kepemilikan atas suatu entitas atau perusahaan. Artinya, ketika kamu membeli instrumen ini, kamu ikut memiliki bagian dari perusahaan tersebut.

Namun, instrumen ekuitas juga memiliki risiko lebih tinggi. Jika perusahaan mengalami kerugian atau performanya menurun, harga saham bisa turun cukup drastis. Instrumen ekuitas biasanya cocok untuk tujuan investasi jangka panjang dengan potensi imbal hasil yang lebih besar, tetapi dengan fluktuasi yang lebih tinggi.

Contoh paling umum adalah saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.

Sebagai pemilik, investor ekuitas berhak atas:

 

  • Potensi kenaikan harga saham (capital gain)
  • Pembagian keuntungan perusahaan (dividen)

 

2. Instrumen Utang

Instrumen utang adalah instrumen yang menunjukkan adanya hubungan pinjam-meminjam. Ketika membeli instrumen ini, kamu bukan menjadi pemilik, melainkan pemberi pinjaman.

Karena sifatnya utang, risikonya cenderung lebih rendah dibanding ekuitas, terutama jika diterbitkan oleh pemerintah. Namun, potensi keuntungannya juga biasanya lebih stabil dan tidak sebesar saham.

Contohnya adalah obligasi perusahaan dan Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah. Sebagai investor, kamu akan menerima:

 

  • Bunga atau kupon secara berkala
  • Pengembalian pokok dana saat jatuh tempo

 

Perbedaan Instrumen Pasar Uang dan Pasar Modal

Dalam sistem keuangan, pasar uang dan pasar modal punya fungsi yang berbeda. Keduanya sama-sama menjadi tempat bertemunya pihak yang butuh dana dan pihak yang punya dana, tapi karakter instrumennya tidak sama.

Supaya nggak salah pilih saat investasi, ini penjelasan lengkapnya:

 

Aspek

Pasar Uang

Pasar Modal

Jangka Waktu

Kurang dari 1 tahun

Lebih dari 1 tahun

Tingkat Risiko

Relatif rendah

Lebih tinggi

Potensi Imbal Hasil

Stabil, cenderung lebih kecil

Lebih besar, tetapi fluktuatif

Tujuan Umum

Kebutuhan jangka pendek

Investasi jangka panjang

Contoh Instrumen

Deposito, surat berharga jangka pendek

Saham, obligasi, reksa dana

 

1. Perbedaan dari Sisi Jangka Waktu

Perbedaan paling mendasar ada di jangka waktunya.

Instrumen pasar uang digunakan untuk kebutuhan pendanaan jangka pendek, biasanya kurang dari satu tahun. Contohnya deposito berjangka 3 atau 6 bulan, atau surat berharga jangka pendek. Karena tenornya singkat, perputaran dananya juga cepat.

Sementara itu, instrumen pasar modal dirancang untuk jangka menengah hingga panjang, bisa di atas satu tahun bahkan tanpa batas waktu tertentu seperti saham. Saham dan obligasi diperdagangkan melalui Bursa Efek Indonesia dan biasanya digunakan untuk tujuan investasi jangka panjang.

Jadi kalau tujuanmu hanya menyimpan dana sementara, pasar uang lebih relevan. Tapi kalau ingin membangun aset dalam beberapa tahun ke depan, pasar modal lebih cocok.

 

2. Perbedaan dari Sisi Risiko dan Imbal Hasil

Karena jangka waktunya lebih pendek, instrumen pasar uang cenderung memiliki risiko lebih rendah. Fluktuasi nilainya tidak terlalu tajam, sehingga relatif stabil. Namun, imbal hasilnya juga biasanya tidak terlalu besar.

Sebaliknya, instrumen pasar modal menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi, tetapi dengan risiko yang lebih besar pula. Harga saham bisa naik dan turun setiap hari tergantung kondisi ekonomi, kinerja perusahaan, hingga sentimen pasar.

Artinya, semakin besar potensi keuntungan, biasanya semakin besar juga risiko yang harus siap dihadapi.

 

3. Perbedaan dari Sisi Tujuan Investasi

Tujuan investasi juga memengaruhi pilihan antara pasar uang dan pasar modal. Jadi, bukan soal mana yang lebih bagus, tetapi mana yang lebih sesuai dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Pasar uang biasanya digunakan untuk:

 

  • Dana darurat
  • Kebutuhan dalam waktu dekat
  • Menyimpan dana sementara sebelum digunakan

 

Sedangkan pasar modal lebih sering digunakan untuk:

 

  • Dana pendidikan
  • Persiapan pensiun
  • Membangun kekayaan jangka panjang
  • Mendapatkan passive income dari dividen atau kupon

 


 

Cek juga:

 

 


 

FAQ

1. Apa bedanya instrumen keuangan dengan produk keuangan?

Instrumen keuangan adalah aset atau kontrak yang memiliki nilai ekonomi dan bisa diperjualbelikan, seperti saham, obligasi, atau reksa dana. Fokusnya ada pada aktivitas investasi atau pendanaan.

Sementara itu, produk keuangan cakupannya lebih luas. Produk keuangan bisa berupa tabungan, kredit, asuransi, hingga layanan pembayaran digital. Artinya, semua instrumen keuangan termasuk produk keuangan, tetapi tidak semua produk keuangan adalah instrumen investasi.

 

2. Instrumen keuangan apa yang cocok untuk pemula?

Untuk pemula, sebaiknya memilih instrumen dengan risiko relatif rendah dan cara kerja yang lebih sederhana. Beberapa pilihan yang sering direkomendasikan adalah:

 

  • Reksa dana pasar uang
  • Deposito berjangka
  • Surat Berharga Negara (SBN) ritel

 

Instrumen tersebut cenderung lebih stabil dibanding saham individual. Selain itu, reksa dana dikelola oleh manajer investasi profesional sehingga cocok untuk yang belum punya pengalaman analisis pasar.

Sebelum mulai, pastikan juga memilih platform atau lembaga yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan agar lebih aman.

 

3. Apakah semua instrumen keuangan pasti berisiko?

Ya, semua instrumen keuangan memiliki risiko. Tidak ada investasi yang benar-benar bebas risiko.

Perbedaannya ada pada tingkat risikonya. Deposito memiliki risiko yang relatif rendah, sedangkan saham atau instrumen derivatif memiliki risiko yang lebih tinggi karena harganya bisa naik turun dengan cepat.

Biasanya berlaku prinsip: semakin tinggi potensi keuntungan, semakin tinggi pula risikonya. Karena itu, penting untuk memahami profil risiko sebelum memilih instrumen investasi.

 

4. Berapa modal minimal untuk mulai investasi instrumen keuangan?

Saat ini, modal untuk mulai investasi sudah jauh lebih terjangkau dibanding dulu. Beberapa reksa dana bisa dimulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000 tergantung platform. Saham juga bisa dibeli dalam jumlah kecil sesuai harga per lot di Bursa Efek Indonesia.

Untuk SBN ritel, biasanya ada batas minimal pembelian yang ditentukan pemerintah saat masa penawaran. Sementara deposito menyesuaikan kebijakan masing-masing bank.

Artinya, investasi sekarang tidak harus menunggu punya modal besar. Yang lebih penting adalah memahami instrumen yang dipilih dan menyesuaikannya dengan tujuan keuangan.

 

Mau Jago Investasi? Mulai dari Ilmunya Dulu!

Di era digital dan ekonomi global, pemahaman tentang investasi, manajemen risiko, dan strategi portofolio sudah jadi kompetensi penting. Apalagi kalau kamu ingin berkarier di pasar modal, perusahaan investasi, perbankan, hingga lembaga seperti Otoritas Jasa Keuangan atau industri yang terhubung dengan Bursa Efek Indonesia.

Kalau kamu ingin serius membangun karier di bidang keuangan dan investasi, memilih jurusan yang tepat adalah langkah awal yang penting. Kamu bisa mempertimbangkan Jurusan Keuangan dan Investasi Cakrawala University, yang dirancang agar lulusannya benar-benar siap bersaing di dunia kerja melalui:

 

  • Program penyaluran kerja dengan dukungan lebih dari 1.000 mitra industri dari berbagai sektor
  • Magang sejak semester pertama, sehingga pengalaman dan portofolio bisa dibangun lebih awal
  • Kurikulum berbasis industri yang disusun sesuai kebutuhan dunia kerja
  • Dosen praktisi berpengalaman, sehingga pembelajaran lebih aplikatif dan relevan

 

banner jurusan finance cakrawala university

 

Kalau ingin punya karier yang relevan, kompetitif, dan siap kerja di industri keuangan modern, sekarang saatnya ambil langkah pertama. Daftar sekarang atau tanya-tanya gratis dan mulai perjalananmu bersama Cakrawala University!

Link Banner

Share

Berita Terkait

Logo Cakrawala Black

Jl. Kemang Timur No.1, RT.14/RW.8, Pejaten Bar., Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510

© 2023 Cakrawala University. All Rights Reserved.