Oleh Universitas Cakrawala
•
31 October 2024
Saat ini, data center menjadi jantung dari berbagai layanan digital yang kita gunakan sehari-hari. Namun, tidak semua data center memiliki kualitas yang sama. Untuk membedakan kualitas dan keandalan suatu data center, digunakanlah sistem klasifikasi berdasarkan tier.
Tier pada data center merupakan suatu standar yang menunjukkan tingkat kehandalan, ketersediaan, dan efisiensi dari sebuah data center. Semakin tinggi tier data center, maka semakin baik pula kualitas layanan yang ditawarkan.
Artikel ini akan membahas secara mendalam mengenai konsep tier pada data center dan pentingnya memahami perbedaan antara masing-masing tingkatan tier. Simak informasi selengkapnya di bawah ini!
Baca Juga: Apa Itu Penyajian Data, Jenis-Jenis dan Contohnya
Tier pada data center adalah sistem klasifikasi yang digunakan untuk menilai seberapa baik sebuah data center dapat menjaga ketersediaan layanan, menangani kegagalan sistem, serta mengelola downtime atau waktu henti layanan.
Klasifikasi tier ini dikembangkan oleh Uptime Institute, sebuah organisasi independen yang menyediakan standar sertifikasi bagi data center di seluruh dunia. Sistem tier tersebut mengukur kemampuan sebuah data center dalam menangani beban kerja dan menjaga keandalan operasional, mulai dari tier 1 hingga tier 4.
Tiap tier menunjukkan level keandalan infrastruktur data center, dengan semakin tinggi tier berarti semakin baik performanya, mulai dari sistem redundansi hingga kemampuan penanganan kegagalan.
Cek juga:
Basic Capacity Tier 1 adalah level terendah dalam klasifikasi data center. Pada tingkat ini, infrastruktur data center cukup sederhana, dengan peralatan dasar yang mampu mendukung operasional secara terbatas.
Data center tier 1 hanya memiliki satu jalur distribusi untuk listrik dan pendinginan tanpa adanya komponen redundansi atau backup. Artinya, jika terjadi gangguan, downtime akan lebih sering terjadi dengan potensi downtime hingga 28,8 jam per tahun.
Pada tier 2, data center memiliki beberapa peningkatan dibandingkan tier 1. Tingkat ini mencakup komponen yang lebih redundansi, seperti sistem pendinginan, UPS (Uninterruptible Power Supply), dan generator cadangan. Dengan adanya redundansi ini, data center tier 2 dapat menangani beberapa kegagalan sistem tanpa mengakibatkan downtime yang signifikan.
Potensi downtime pada data center tier 2 adalah sekitar 22 jam per tahun. Ini menjadikan tier 2 cocok untuk perusahaan yang membutuhkan keandalan lebih baik, tetapi tetap tidak membutuhkan uptime 24/7 seperti pada tier yang lebih tinggi.
Pada tingkat ini, data center sudah memiliki sistem yang lebih canggih, dengan redundansi jalur distribusi listrik dan pendinginan. Keunggulan tier 3 adalah kemampuan untuk melakukan pemeliharaan pada salah satu komponen tanpa harus menghentikan operasional seluruh data center. Artinya, jika ada satu jalur listrik yang rusak, jalur lainnya dapat tetap beroperasi, sehingga layanan tidak akan terganggu.
Downtime pada data center tier 3 sangat minim, hanya sekitar 1,6 jam per tahun. Ini membuatnya cocok untuk perusahaan yang membutuhkan ketersediaan layanan tinggi dengan sedikit gangguan.
Tolerant Tier 4 adalah tingkatan tertinggi dan paling canggih dari semua tier pada data center. Data center tier 4 dirancang untuk memiliki toleransi penuh terhadap kesalahan, yang berarti mampu menangani kegagalan besar tanpa mempengaruhi layanan sama sekali.
Tingkat ini memiliki sistem redudansi penuh di semua aspek, termasuk listrik, pendinginan, dan jaringan. Setiap komponen memiliki cadangan sehingga jika satu komponen gagal, komponen lain akan segera mengambil alih.
Data center tier 4 dirancang untuk uptime 99,995%, dengan downtime yang sangat kecil, kurang dari 0,4 jam per tahun. Karena itu, data center ini biasanya digunakan oleh perusahaan besar yang tidak bisa mentolerir downtime, seperti lembaga keuangan, perusahaan teknologi besar, dan layanan kesehatan.
Klasifikasi tier pada data center sangat penting karena dapat membantu perusahaan menentukan jenis data center yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.
Misalnya, perusahaan kecil mungkin merasa cukup dengan data center tier 1 atau tier 2. Sementara itu, perusahaan besar dengan kebutuhan uptime tinggi, seperti layanan perbankan atau e-commerce, mungkin memerlukan tier 3 dan tier 4 untuk memastikan operasional tetap berjalan lancar bahkan dalam kondisi kegagalan.
Dengan memahami perbedaan tingkatan tier ini, perusahaan dapat memilih solusi data center yang tepat sesuai dengan anggaran dan kebutuhan operasionalnya.
Bagi kamu yang ingin menjadi seorang ahli dalam merancang, mengelola, dan mengembangkan data center yang handal, diperlukan pengetahuan yang lebih dalam tentang sistem informasi.
Jurusan Sistem Informasi di Cakrawala University menawarkan program yang komprehensif dalam bidang data center. Dengan kurikulum yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri, kamu akan mempelajari berbagai aspek manajemen data center.
Segera bergabung dengan kami dan jadilah bagian dari generasi penerus yang akan membangun infrastruktur digital yang handal!
Baca Juga :
Berita Terkait
Cakrawala University Hadir Menjawab Tantangan Pendidikan Digital di Era Industri 4.0
Adimas Herviana
•
27 October 2025
Cakrawala Festival: Semarak Acara Perdana Angkatan Pertama Cakrawala University (Part 2)
22 August 2025
Cakrawala Festival: Semarak Acara Perdana Angkatan Pertama Cakrawala University
22 August 2025
Tiga Program Studi Universitas Cakrawala Jakarta Selatan Raih Akreditasi "Baik" dari LAM INFOKOM
Dwi Winarno, S.E., M.B.A., CIFM
•
22 August 2025
Program Studi Ekonomi Keuangan dan Perbankan Universitas Cakrawala Resmi Terakreditasi oleh LAMEMBA
Dwi Winarno, S.E., M.B.A., CIFM
•
08 August 2025