Tertarik masuk jurusan Bisnis Digital, tapi masih ragu karena kemampuan Bahasa Inggris? Kekhawatiran ini wajar. Beberapa calon mahasiswa langsung berpikir Bisnis Digital identik dengan istilah asing, tools berbahasa Inggris, dan platform global seperti Google atau Instagram.
Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. Yuk, kita bahas secara realistis agar kamu bisa menilai apakah Bisnis Digital benar-benar cocok untukmu!
Key Takeaways
- Jurusan Bisnis Digital tidak menuntut kemampuan Bahasa Inggris yang tinggi sejak awal. Bahasa Inggris berperan sebagai skill pendukung untuk memahami istilah dan tools, bukan sebagai syarat utama untuk bisa mengikuti perkuliahan.
- Skill bisnis dan kemampuan berpikir strategis jauh lebih penting daripada sekadar jago Bahasa Inggris. Pemahaman konsep bisnis, analisis data, problem solving, dan kreativitas menjadi fokus utama dalam jurusan Bisnis Digital.
- Di Universitas Cakrawala, Bisnis Digital bisa dipelajari dari dasar tanpa harus minder soal Bahasa Inggris. Pembelajaran dirancang bertahap, berbasis industri, dan didukung program magang serta penyaluran kerja ke 1.000+ mitra industri.
Apakah Jurusan Bisnis Digital Harus Pintar Bahasa Inggris?
Jawaban singkatnya: tidak harus pintar, tapi perlu paham dasar dan mau belajar.
Jurusan Bisnis Digital bukan jurusan bahasa, jadi kemampuan Bahasa Inggris bukan penentu utama apakah kamu bisa mengikuti kuliahnya atau tidak.
Di perkuliahan Bisnis Digital, Bahasa Inggris lebih sering berfungsi sebagai alat bantu, bukan sebagai fokus utama. Kamu akan lebih banyak belajar soal:
- Strategi bisnis
- Pemasaran digital
- Perilaku konsumen
- Pemanfaatan teknologi
Bahasa Inggris biasanya muncul lewat istilah atau tools, misalnya saat membahas platform seperti Google, Meta, atau konsep digital marketing yang memang belum semuanya punya padanan kata dalam Bahasa Indonesia.
Bahasa Inggris Digunakan di Bagian Apa Saja dalam Bisnis Digital?

Sumber: Freepik
Dalam Bisnis Digital, Bahasa Inggris tidak digunakan di semua aspek, tapi muncul di bagian-bagian tertentu yang memang berkaitan dengan teknologi dan praktik global.
Umumnya, Bahasa Inggris berfungsi sebagai bahasa istilah dan sistem, bukan bahasa komunikasi utama sehari-hari:
1. Tools dan Platform Digital
Sebagian besar aktivitas Bisnis Digital dilakukan menggunakan tools internasional yang berbahasa Inggris. Di tahap ini, Bahasa Inggris membantu pengguna memahami fitur dan data yang ditampilkan. Contohnya:
- Google Analytics untuk membaca data pengunjung website
- Meta Ads untuk mengelola iklan di media sosial
- TikTok Ads untuk kampanye pemasaran berbasis video
Hal yang dibutuhkan bukan kemampuan berbicara, melainkan kemampuan memahami menu, istilah laporan, dan angka-angka performa.
2. Istilah Bisnis dan Digital Marketing
Bisnis Digital menggunakan banyak istilah Bahasa Inggris karena istilah tersebut sudah menjadi standar industri. Beberapa yang paling sering ditemui antara lain:
- Branding
- Engagement
- Conversion
- Target audience
- Customer journey
Istilah ini biasanya tidak diterjemahkan secara literal. Fokus pembelajaran ada pada pemahaman konsep dan penerapannya dalam strategi bisnis, bukan pada hafalan istilah.
3. Referensi, Materi, dan Insight Industri
Karena dunia digital berkembang cepat, referensi yang digunakan sering berasal dari sumber global. Bahasa Inggris digunakan untuk mengakses:
- Artikel dan blog industri dari Google
- Laporan tren pemasaran digital dari HubSpot
- Studi kasus Bisnis Digital internasional
Di sini, kemampuan membaca dan menangkap inti pembahasan jauh lebih penting daripada memahami setiap kata.
4. Komunikasi dan Presentasi Akademik
Dalam konteks perkuliahan, Bahasa Inggris juga muncul saat:
- Presentasi tugas atau proyek bisnis
- Diskusi studi kasus startup global
- Penyebutan istilah teknis saat menjelaskan strategi
Namun, penggunaannya biasanya campuran dengan Bahasa Indonesia. Yang dinilai tetap pemahaman materi dan cara berpikir bisnis, bukan kefasihan Bahasa Inggris.
Intinya, Bahasa Inggris di Bisnis Digital dipakai secara fungsional dan kontekstual. Selama kamu mau belajar dan terbiasa dengan istilah yang sering muncul, bagian ini bisa diikuti tanpa harus jago Bahasa Inggris sejak awal.
Cek juga:
Contoh Penggunaan Bahasa Inggris di Kuliah Bisnis Digital
Berikut gambaran bagaimana Bahasa Inggris muncul dalam aktivitas perkuliahan Bisnis Digital sehari-hari:
- Membaca istilah saat dosen menjelaskan materi: Saat dosen menjelaskan strategi pemasaran digital, istilah seperti market validation, value proposition, atau customer behavior sering disebutkan.
- Melihat menu dan hasil laporan saat praktik: Ketika praktik menggunakan dashboard seperti di Google Analytics, mahasiswa akan membaca data dengan istilah standar. Fokusnya bukan menerjemahkan, tapi memahami arti data dan dampaknya ke strategi bisnis.
- Menulis judul atau poin singkat di slide presentasi: Dalam presentasi kelompok, judul slide atau poin strategi sering menggunakan istilah Bahasa Inggris karena lebih ringkas dan umum dipakai di industri.
- Membahas studi kasus Bisnis Digital global: Beberapa studi kasus diambil dari perusahaan internasional. Mahasiswa membaca ringkasan kasus berbahasa Inggris, lalu menganalisisnya menggunakan sudut pandang bisnis, bukan sudut pandang bahasa.
- Mengikuti arahan tugas berbasis praktik: Instruksi tugas bisa saja menyebut istilah Bahasa Inggris, tapi yang dinilai adalah ketepatan strategi, analisis, dan solusi, bukan kemampuan menulis Bahasa Inggris yang sempurna.
Kalau Bahasa Inggris Kurang, Apakah Bisa Mengikuti Kuliah Bisnis Digital?
Jawabannya bisa.
Kemampuan Bahasa Inggris yang masih terbatas bukan penghalang utama untuk kuliah di jurusan Bisnis Digital. Faktanya, banyak mahasiswa memulai perkuliahan dengan kemampuan Bahasa Inggris dasar, lalu meningkat seiring proses belajar.
Di sebagian besar universitas di Indonesia, perkuliahan Bisnis Digital tetap menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama. Bahasa Inggris biasanya muncul dalam bentuk istilah teknis, nama tools, atau referensi pendukung. Itu pun tidak langsung dilepas begitu saja.
Dosen umumnya akan menjelaskan konteks dan arti istilah tersebut agar mahasiswa tetap bisa mengikuti materi dengan baik.
Beberapa kondisi yang umum terjadi di kelas Bisnis Digital:
- Mahasiswa tidak dituntut fasih berbicara Bahasa Inggris
- Materi berbahasa Inggris dibahas dan dijelaskan ulang
- Penilaian lebih fokus pada pemahaman konsep dan strategi bisnis
- Kemampuan Bahasa Inggris berkembang secara bertahap, bukan instan
Hal ini juga sejalan dengan sistem pembelajaran di jurusan Bisnis Digital di Universitas Cakrawala. Mahasiswa tidak diwajibkan sudah jago Bahasa Inggris sejak awal masuk. Pembelajaran dirancang dari dasar, termasuk pengenalan istilah bisnis dan digital yang sering digunakan di industri.
Program studi ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa di bidang Bisnis Digital dengan menekankan keterampilan perencanaan, pengembangan, manajemen, analisis, hingga evaluasi bisnis. Kurikulumnya disusun berdasarkan kebutuhan industri dan bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan yang relevan dan aplikatif.
Semua materi tersebut disampaikan secara kontekstual dan bertahap, sehingga tetap bisa diikuti oleh mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk yang merasa Bahasa Inggrismu masih belum kuat.
Menariknya, terdapat pula program penyaluran kerja ke lebih dari 1.000 mitra industri, yang membuka peluang lebih besar untuk langsung terhubung dengan dunia kerja setelah lulus. Ditambah lagi, banyak profesi di bidang digital menawarkan peluang kerja remote, sehingga memungkinkan bekerja secara fleksibel dari mana saja.

Cek juga:
Apakah Pintar Bahasa Inggris Menjadi Syarat Masuk Jurusan Bisnis Digital?
Jawabannya tidak.
Pintar Bahasa Inggris bukan syarat wajib untuk masuk jurusan Bisnis Digital. Secara umum, jurusan ini tidak menetapkan kemampuan Bahasa Inggris sebagai syarat akademik utama saat penerimaan mahasiswa baru.
Hal yang biasanya menjadi pertimbangan adalah minat terhadap dunia bisnis dan teknologi, serta kesiapan untuk belajar hal baru. Bahasa Inggris diposisikan sebagai skill pendukung, bukan penentu kelulusan atau kelayakan masuk jurusan.
Banyak calon mahasiswa keliru mengira bahwa tanpa kemampuan Bahasa Inggris yang kuat, mereka akan tertinggal sejak awal. Padahal, di perkuliahan Bisnis Digital:
- Bahasa Indonesia tetap digunakan sebagai bahasa utama
- Istilah Bahasa Inggris diperkenalkan secara bertahap dan kontekstual
- Mahasiswa diberi waktu untuk beradaptasi dengan istilah dan tools digital
Selama kuliah, kemampuan Bahasa Inggris justru berkembang seiring dengan praktik, misalnya saat membaca istilah di tools digital atau referensi bisnis. Proses ini membuat mahasiswa terbiasa tanpa harus memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang tinggi sejak awal masuk.
Bahasa Inggris vs Skill Inti di Jurusan Bisnis Digital

Sumber: Freepik
Bahasa Inggris memang sering muncul di jurusan Bisnis Digital, tapi bukan skill utama yang menentukan keberhasilan mahasiswa. Dalam praktiknya, ada sejumlah kemampuan lain yang justru lebih krusial dan menjadi fokus utama pembelajaran.
Bahasa Inggris berperan sebagai alat bantu untuk memahami istilah, tools, dan referensi. Sementara itu, jurusan Bisnis Digital lebih menekankan pada kemampuan berpikir, analisis, dan penerapan strategi bisnis di dunia nyata.
Berikut skill inti yang lebih penting dibanding sekadar pintar Bahasa Inggris:
- Pemahaman konsep bisnis: Mahasiswa dituntut memahami bagaimana bisnis berjalan, mulai dari perencanaan, pengelolaan, hingga pengambilan keputusan berbasis data.
- Kemampuan analisis dan berpikir kritis: Skill ini dibutuhkan untuk membaca data, memahami perilaku konsumen, serta mengevaluasi strategi digital yang dijalankan.
- Problem solving: Dunia Bisnis Digital penuh perubahan. Mahasiswa harus mampu mencari solusi saat strategi tidak berjalan sesuai rencana.
- Kreativitas dan inovasi: Ide kreatif sangat dibutuhkan dalam pemasaran digital, pengembangan produk, dan membangun brand agar bisa bersaing di pasar.
- Kemampuan adaptasi teknologi: Tools dan platform digital terus berkembang. Mahasiswa perlu cepat beradaptasi dan tidak takut mencoba teknologi baru.
- Kerja tim dan komunikasi: Banyak proyek Bisnis Digital dikerjakan secara kelompok. Kemampuan bekerja sama dan menyampaikan ide dengan jelas jauh lebih penting daripada kemampuan Bahasa Inggris yang tinggi.
Risiko Jika Sama Sekali Tidak Mau Belajar Bahasa Inggris
Meski jurusan Bisnis Digital tidak menuntut kemampuan Bahasa Inggris yang tinggi sejak awal, menolak belajar Bahasa Inggris sama sekali tetap memiliki risiko. Bahasa Inggris memang bukan skill utama, tetapi perannya cukup penting sebagai penunjang dalam dunia Bisnis Digital.
Beberapa risiko yang bisa muncul jika sama sekali tidak mau belajar Bahasa Inggris antara lain:
- Kesulitan memahami tools digital: Banyak tools Bisnis Digital menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Tanpa pemahaman dasar, mahasiswa akan lebih lambat memahami fitur, laporan, dan data yang ditampilkan.
- Akses referensi jadi terbatas: Banyak insight, tren, dan studi kasus terbaru di dunia Bisnis Digital berasal dari sumber internasional. Tanpa kemampuan membaca Bahasa Inggris dasar, referensi yang bisa diakses jadi lebih sempit.
- Kurang optimal saat praktik dan analisis: Istilah-istilah bisnis dan pemasaran digital sering digunakan dalam diskusi dan tugas. Jika tidak mau mempelajarinya, pemahaman strategi bisnis bisa kurang maksimal.
- Hambatan saat masuk dunia kerja: Di dunia kerja, Bahasa Inggris sering digunakan minimal untuk memahami tools, laporan, atau komunikasi tertulis sederhana. Tidak memiliki dasar sama sekali bisa menjadi kendala tersendiri.
- Lebih sulit mengikuti perkembangan industri: Dunia Bisnis Digital berkembang sangat cepat. Tanpa kemampuan Bahasa Inggris dasar, mahasiswa akan tertinggal dalam mengikuti tren dan inovasi terbaru.
Cara Mempersiapkan Bahasa Inggris Sebelum dan Saat Kuliah
Mempersiapkan Bahasa Inggris untuk jurusan Bisnis Digital tidak harus ribet atau berat. Fokusnya bukan jadi jago grammar, tapi membiasakan diri dengan Bahasa Inggris yang memang dipakai di dunia bisnis dan digital.
Berikut cara yang realistis dan mudah dilakukan:
- Mulai dari istilah Bisnis Digital yang sering muncul: Tidak perlu menghafal kamus. Cukup pahami istilah umum seperti marketing, branding, conversion, atau target audience. Istilah ini akan sering dipakai dan lama-lama jadi terbiasa.
- Biasakan menggunakan tools berbahasa Inggris: Gunakan tools digital dengan bahasa default Inggris agar terbiasa membaca menu dan laporan. Misalnya saat eksplor fitur di platform milik Google atau tools desain dan pemasaran digital.
- Latih kemampuan membaca, bukan speaking dulu: Di awal, kemampuan membaca dan memahami konteks jauh lebih penting daripada berbicara. Cukup pahami isi artikel, modul, atau instruksi singkat.
- Manfaatkan alat bantu secukupnya: Gunakan penerjemah seperti Google Translate untuk membantu memahami istilah atau kalimat pendek. Hindari ketergantungan penuh, tapi gunakan sebagai alat belajar.
- Belajar konsisten dengan cara ringan: Aplikasi seperti Duolingo bisa digunakan untuk menambah kosakata dasar tanpa tekanan. Sedikit tapi rutin jauh lebih efektif.
- Fokus ke pemahaman konteks, bukan terjemahan kata per kata: Dalam Bisnis Digital, yang penting adalah mengerti maksud dan fungsi istilah tersebut dalam strategi bisnis, bukan arti literalnya.
FAQ
1. Apakah ada mata kuliah Bahasa Inggris di jurusan Bisnis Digital?
Umumnya ada mata kuliah Bahasa Inggris sebagai mata kuliah pendukung, bukan inti.
Fokusnya lebih ke Bahasa Inggris dasar atau Bahasa Inggris bisnis agar mahasiswa terbiasa dengan istilah yang sering digunakan di dunia Bisnis Digital.
2. Apakah Bahasa Inggris memengaruhi nilai dan kelulusan?
Tidak secara langsung. Penilaian di jurusan Bisnis Digital lebih menekankan pemahaman konsep, analisis, dan strategi bisnis.
Bahasa Inggris berperan sebagai alat bantu, bukan penentu utama nilai atau kelulusan.
3. Apakah kemampuan Bahasa Inggris bisa berkembang selama kuliah Bisnis Digital?
Bisa.
Seiring penggunaan tools digital, istilah bisnis, dan referensi berbahasa Inggris, kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa biasanya berkembang secara alami tanpa harus belajar secara terpisah.
Siap Masuk Bisnis Digital Meski Bersama Universitas Cakrawala!
Jurusan Bisnis Digital tidak mengharuskan kamu pintar Bahasa Inggris sejak awal. Hal yang lebih penting adalah kemauan belajar, kemampuan memahami konsep bisnis, dan kesiapan untuk beradaptasi dengan dunia digital yang terus berkembang.
Kalau kamu tertarik membangun karier di dunia bisnis modern tanpa harus minder duluan soal Bahasa Inggris, Jurusan Bisnis Digital di Universitas Cakrawala bisa jadi pilihan yang tepat. Di sini, mahasiswa dibimbing mulai dari dasar dengan pembelajaran yang dirancang agar siap kerja setelah lulus, bukan sekadar paham teori.
Melalui program ini, kamu akan mendapatkan:
- Program penyaluran kerja ke 1.000+ mitra industri, membuka peluang karier bahkan sebelum lulus
- Magang sejak semester pertama, sehingga pengalaman kerja bisa dibangun lebih awal
- Kurikulum berbasis industri, disusun agar selalu relevan dengan kebutuhan dunia Bisnis Digital
- Dosen praktisi berpengalaman, yang membagikan insight langsung dari dunia kerja nyata
Yuk, mulai langkahmu di dunia Bisnis Digital sekarang. Cari tahu lebih lanjut, konsultasi gratis, atau langsung daftar, dan siapkan dirimu menjadi bagian dari generasi muda yang siap bersaing di era ekonomi digital Indonesia!