Kamu mungkin masih bingung dan mengira desain grafis dan DKV itu sama. Soalnya, dua-duanya sama-sama berhubungan dengan gambar, warna, dan visual kreatif.
Padahal, kalau dipelajari lebih dalam, cara belajarnya, fokus ilmunya, sampai arah kariernya bisa beda jauh.
Yuk, simak penjelasan lengkap tentang perbedaan desain grafis dan DKV berikut ini!
Key Takeaways
- Desain grafis lebih menekankan pada eksekusi visual dan produksi desain, sementara DKV berfokus pada komunikasi, konsep, dan strategi di balik visual.
- Selain skill desain, DKV membekali mahasiswa dengan kemampuan berpikir konseptual, memahami audiens, dan membangun strategi visual. Hal ini membuat lulusan DKV lebih fleksibel untuk berkembang di berbagai peran kreatif.
- Dengan kurikulum berbasis industri, pengalaman praktik nyata, dan dukungan jaringan mitra, Universitas Cakrawala membantu mahasiswa DKV siap bersaing di dunia kerja.
Apa Itu Desain Grafis?
Desain grafis adalah bidang yang berfokus pada pembuatan visual untuk menyampaikan informasi secara langsung.
Tujuannya simpel: bikin pesan jadi mudah dilihat, dibaca, dan dipahami lewat elemen visual seperti teks, warna, dan gambar.
Umumnya, desain grafis lebih menitikberatkan pada eksekusi visual berdasarkan arahan atau brief yang sudah ada. Bidang ini juga sering dikenalkan sejak jenjang seperti SMK Multimedia atau kursus keterampilan, karena fokusnya pada praktik dan skill teknis.
Singkatnya, desain grafis itu soal mengubah ide menjadi visual yang siap digunakan.
Apa Itu DKV (Desain Komunikasi Visual)?
DKV (Desain Komunikasi Visual) adalah bidang yang mempelajari cara menyampaikan pesan lewat visual secara strategis.
Jadi, bukan cuma soal desainnya kelihatan bagus, tapi juga apa pesan yang mau disampaikan dan ke siapa.
Di DKV, visual dianggap sebagai alat komunikasi. Karena itu, mahasiswa DKV tidak hanya belajar desain, tapi juga konsep, riset audiens, dan cara berpikir kreatif. Bidang ini juga erat kaitannya dengan dunia industri kreatif dan profesional, termasuk standar yang sering dibahas oleh organisasi seperti Asosiasi Desain Grafis Indonesia.
Kalau desain grafis fokus ke visualnya, DKV fokus ke pesan di balik visual tersebut.
Cek juga:
- Jurusan Desain Grafis: Info Kuliah dan Prospek Kerjanya
- Jurusan DKV: Info Kuliah dan Prospek Kerjanya
Perbedaan Desain Grafis dan DKV

Sumber: Freepik
Setelah tahu gambaran umumnya, sekarang kita masuk ke bagian yang paling sering bikin bingung. Walaupun sama-sama bermain di dunia visual, desain grafis dan DKV punya fokus belajar dan cara kerja yang berbeda.
Perbedaannya akan makin kelihatan kalau dilihat dari beberapa aspek berikut:
1. Fokus dan Ruang Lingkup
Desain grafis punya fokus utama pada hasil visual. Ruang lingkupnya lebih sempit dan spesifik, seperti membuat poster, logo, konten media sosial, atau materi promosi sesuai kebutuhan klien.
Tugas desainer grafis biasanya adalah menerjemahkan brief menjadi desain yang rapi dan siap digunakan.
Sementara itu, DKV (Desain Komunikasi Visual) memiliki ruang lingkup yang lebih luas. Mahasiswa DKV tidak hanya mendesain, tapi juga memikirkan pesan, tujuan komunikasi, dan dampak visual terhadap audiens.
Visual di DKV berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan ide, nilai, dan identitas brand.
2. Pendekatan Studi (Konsep vs Eksekusi)
Di desain grafis, pendekatan belajarnya cenderung praktis dan teknis. Kamu akan lebih sering langsung mengerjakan desain berdasarkan arahan yang jelas. Fokusnya adalah bagaimana desain bisa cepat jadi, sesuai brief, dan fungsional.
Berbeda dengan DKV yang menekankan konsep sebelum eksekusi. Mahasiswa DKV biasanya diminta melakukan riset, menyusun ide, dan menjelaskan alasan di balik desain yang dibuat.
Proses berpikir ini mirip dengan pendekatan yang digunakan di dunia periklanan dan branding profesional, seperti yang diterapkan di agensi-agensi besar.
3. Media yang Digunakan
Media yang digunakan dalam desain grafis umumnya lebih terbatas, seperti:
- Poster dan brosur
- Banner dan materi promosi
- Konten visual media sosial
- Desain cetak dan digital sederhana
Sedangkan di DKV, media yang dipelajari jauh lebih beragam. Mulai dari media cetak, digital, hingga interaktif.
Mahasiswa DKV juga bisa mengerjakan proyek branding, kampanye komunikasi, multimedia, bahkan UI/UX, karena visual dipandang sebagai bagian dari sistem komunikasi yang utuh.
4. Jenjang Pendidikan di Indonesia
Perbedaan desain grafis dan DKV juga kelihatan dari jalur pendidikannya.
Desain grafis sering ditemui di jenjang vokasi, seperti SMK, D3, atau kursus profesional. Tujuannya lebih ke menyiapkan skill teknis agar bisa langsung kerja.
Sedangkan DKV umumnya ada di jenjang S1, dengan kurikulum akademik yang lebih lengkap. Pembelajarannya mencakup teori, praktik, riset, hingga proyek berbasis industri yang mengikuti standar pendidikan tinggi di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
5. Peluang Karier
Walaupun sama-sama bergerak di dunia kreatif, desain grafis dan DKV punya arah karier yang berbeda.
Desain grafis biasanya mengarah ke pekerjaan yang fokus pada produksi visual, seperti:
- Graphic Designer: Bertugas membuat materi visual seperti poster, logo, dan konten promosi sesuai brief. Profesi ini banyak dibutuhkan di perusahaan e-commerce seperti Tokopedia.
- Content Designer: Fokus bikin konten visual untuk media sosial dan platform digital agar tampil menarik dan konsisten. Kamu bisa menemukan posisi ini di perusahaan teknologi finansial seperti OVO.
- Layout Designer: Mengatur tata letak teks dan visual untuk media cetak maupun digital, seperti majalah atau e-book. Profesi ini umum di perusahaan media seperti Kompas Gramedia.
- Visual Designer: Bertanggung jawab menjaga konsistensi tampilan visual brand di berbagai platform. Banyak dibutuhkan di perusahaan consumer goods seperti Unilever Indonesia.
- Production Designer: Berfokus pada produksi aset visual untuk kebutuhan kampanye dan promosi. Posisi ini sering ada di startup digital seperti Ruangguru.
Sementara lulusan DKV punya peluang karier yang lebih luas, karena dibekali kemampuan konsep dan komunikasi, misalnya:
- Brand Strategist: Bertugas menyusun strategi komunikasi dan identitas visual brand. Profesi ini banyak dibutuhkan di agensi branding seperti Leo Burnett Indonesia.
- Art Director: Mengarahkan konsep visual dalam kampanye iklan agar pesan brand tersampaikan dengan kuat. Posisi ini bisa kamu temui di agensi kreatif seperti Ogilvy Indonesia.
- Creative Director: Memimpin tim kreatif dan menentukan arah komunikasi visual secara keseluruhan. Peran ini umum di jaringan agensi global seperti Dentsu Indonesia.
- UI/UX Designer: Merancang tampilan dan pengalaman pengguna pada website atau aplikasi. Profesi ini banyak dibutuhkan di perusahaan digital seperti Traveloka.
- Visual Communication Specialist: Mengelola komunikasi visual perusahaan agar pesan sampai ke audiens dengan efektif. Posisi ini bisa kamu temui di perusahaan perbankan seperti Bank Mandiri.
6. Proses Berpikir dan Problem Solving
Perbedaan penting lain ada di cara berpikir.
Di desain grafis, masalah biasanya sudah dirumuskan. Kamu tinggal fokus ke bagaimana mengeksekusi desain yang sesuai brief.
Sedangkan di DKV, kamu dilatih untuk mencari masalahnya dulu, lalu menentukan solusi visual yang tepat. Mulai dari memahami target audiens, tujuan komunikasi, sampai dampak pesan yang disampaikan.
Jadi, bukan cuma “desainnya bagus”, tapi juga “desain ini menjawab kebutuhan apa”.
7. Keterlibatan dalam Strategi Brand
Di desain grafis, peran dalam strategi brand biasanya tidak terlalu dalam. Seorang desainer grafis umumnya bekerja setelah konsep dan arah brand sudah ditentukan. Tugasnya adalah memastikan visual yang dibuat sesuai dengan identitas brand dan konsisten di berbagai media.
Berbeda dengan DKV, yang sejak awal melibatkan mahasiswa dalam proses membangun brand. Mahasiswa DKV belajar menganalisis target audiens, tujuan komunikasi, hingga pesan apa yang ingin disampaikan lewat visual.
Dari situ, baru ditentukan konsep desain, tone visual, dan media yang digunakan. Karena itu, lulusan DKV sering terlibat dalam branding, kampanye komunikasi, dan strategi visual jangka panjang.
8. Kebutuhan Soft Skill
Perbedaan selanjutnya ada pada soft skill yang dibutuhkan di dunia kerja.
Di desain grafis, kemampuan utama yang paling dikejar adalah hard skill. Kamu dituntut cepat, rapi, dan teknis dalam mengerjakan desain. Selama bisa memenuhi brief dan deadline, komunikasi biasanya tidak terlalu kompleks.
Sementara di DKV, soft skill justru jadi nilai penting. Mahasiswa DKV dibiasakan untuk presentasi konsep, berdiskusi ide, menerima feedback, dan bekerja dalam tim lintas divisi. Kamu juga harus bisa menjelaskan kenapa desainmu seperti itu, bukan sekadar “biar kelihatan bagus”.
Makanya, lulusan DKV biasanya lebih siap untuk posisi yang menuntut komunikasi, kepemimpinan, dan pemikiran strategis, bukan hanya kemampuan desain semata.
Desain Grafis vs DKV: Mana yang Lebih Dibutuhkan Industri?
Kalau melihat kondisi industri kreatif saat ini, keduanya sama-sama dibutuhkan, tapi dengan kebutuhan yang berbeda.
Desain grafis masih sangat penting untuk kebutuhan produksi visual sehari-hari, seperti:
- Konten media sosial
- Materi promosi
- Aset digital yang terus dibutuhkan oleh perusahaan
Namun, seiring berkembangnya dunia digital dan persaingan brand yang makin ketat, DKV cenderung punya nilai lebih di industri. Perusahaan tidak hanya butuh desain yang terlihat bagus, tapi juga konsep, strategi komunikasi, dan visual yang punya tujuan jelas.
Di sinilah peran lulusan DKV dibutuhkan, karena mereka memahami konteks bisnis, audiens, dan pesan yang ingin disampaikan lewat visual.
Melihat kebutuhan industri yang makin mengarah ke konsep, komunikasi, dan strategi visual, jurusan DKV menjadi salah satu pilihan yang relevan untuk masa depan. Salah satu yang bisa kamu pertimbangkan adalah Jurusan Desain Komunikasi Visual di Universitas Cakrawala.
Di sini, kamu tidak hanya belajar bikin desain yang bagus secara visual, tapi juga memahami makna, tujuan, dan strategi di balik setiap desain yang dibuat.
Selama kuliah DKV, kamu akan mempelajari:
- Teori desain dan komunikasi visual
- Teknik penyusunan dan perancangan visual
- Strategi komunikasi kreatif
- Produksi konten visual dan multimedia
- Pengelolaan identitas visual dan branding
Menariknya, masa studi DKV di Universitas Cakrawala dirancang selama 3 tahun kuliah dan 1 tahun kerja praktik. Artinya, kamu tidak hanya belajar di kelas, tapi juga langsung terjun ke dunia industri untuk membangun portofolio dan pengalaman kerja.
Tak hanya itu, kurikulumnya juga sudah berbasis industri, sehingga mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi juga praktik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Ditambah lagi, ada program penyaluran kerja dengan dukungan lebih dari 1.000+ perusahaan mitra, yang membuka peluang karier lebih luas setelah lulus.

Cek juga:
Tips Memilih antara Desain Grafis dan DKV

Sumber: Freepik
Biar kamu nggak salah jurusan dan bisa menikmati proses kuliah sampai lulus, coba pertimbangkan beberapa poin berikut:
Supaya kamu nggak salah pilih jurusan dan bisa menikmati proses kuliah, coba pertimbangkan beberapa tips berikut secara objektif:
- Kenali minat dan ketertarikanmu: Kalau kamu lebih suka langsung mendesain dan fokus ke visual teknis, desain grafis bisa jadi pilihan. Tapi kalau kamu tertarik ke konsep, pesan, dan makna di balik desain, DKV lebih cocok.
- Perhatikan cara belajar yang kamu nyaman: Desain grafis cenderung praktis dan langsung ke eksekusi. DKV menuntut kamu siap berdiskusi, riset, dan presentasi ide.
- Tentukan arah karier sejak awal: Kalau targetmu adalah pekerjaan produksi visual, desain grafis sudah cukup. Namun, kalau ingin berkembang ke branding, creative lead, atau strategi komunikasi visual, DKV memberi ruang lebih luas.
- Lihat kebutuhan industri ke depan: Industri kreatif tidak hanya mencari desainer yang jago teknis, tapi juga yang bisa berpikir strategis dan komunikatif.
- Pilih jurusan yang sesuai dengan gaya belajarmu: Jurusan yang cocok akan membuat kamu lebih menikmati proses belajar dan berkembang secara maksimal.
Cek juga:
- 13 Universitas yang Ada Jurusan Desain Grafis Terbaik
- 10 Universitas yang Buka Jurusan DKV Terbaik di Indonesia
Frequently Ask Questions (FAQ)
1. Apakah jurusan DKV harus jago gambar dari awal?
Gambar memang penting, tapi bukan syarat wajib dari awal.
Masuk jurusan DKV tidak mengharuskan kamu sudah jago gambar atau desain. Hal yang jauh lebih penting adalah minat di dunia visual, kemauan belajar, dan rasa ingin tahu terhadap komunikasi visual.
Di perkuliahan DKV, mahasiswa akan belajar dari dasar, mulai dari cara berpikir visual, menyusun konsep komunikasi, sampai teknik desain dan visualisasi secara bertahap. Kemampuan menggambar akan diasah selama proses kuliah, bukan dituntut sempurna sejak hari pertama.
2. Apakah desain grafis bisa kuliah S1?
Di Indonesia, desain grafis jarang berdiri sebagai jurusan S1 yang terpisah. Biasanya, desain grafis masuk sebagai bagian dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Itulah kenapa, kalau kamu ingin kuliah S1 dan belajar desain secara lebih lengkap, DKV jadi pilihan yang paling umum.
Melalui DKV, kamu tetap akan belajar desain grafis secara teknis, tapi ditambah dengan konsep, komunikasi, dan strategi visual. Jadi, bukan cuma bisa bikin desain, tapi juga paham alasan dan tujuan di balik desain tersebut.
3. Industri sekarang lebih butuh desain grafis atau DKV?
Industri saat ini membutuhkan keduanya, tapi dengan kebutuhan yang berbeda.
Desain grafis sangat dibutuhkan untuk pekerjaan produksi visual harian, seperti konten media sosial, materi promosi, dan aset digital.
Namun, seiring persaingan brand yang makin ketat, banyak perusahaan juga mencari talenta yang tidak hanya bisa desain, tapi juga paham komunikasi, branding, dan strategi visual. Di sinilah lulusan DKV punya keunggulan, karena dibekali kemampuan berpikir konseptual sekaligus praktik.
Saatnya Menentukan Pilihan Jurusan yang Tepat di Cakrawala!
Dari pembahasan di atas, bisa disimpulkan perbedaan desain grafis dan DKV bukan sekadar soal bisa gambar atau tidak. Pemahaman ini penting supaya kamu tidak salah memilih jurusan dan bisa menjalani kuliah sesuai minat serta tujuan karier.
Kalau kamu tertarik masuk dunia kreatif dan ingin punya peluang karier yang lebih luas di industri, Jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) di Universitas Cakrawala bisa jadi pilihan yang relevan. Di sini, kamu tidak hanya belajar desain secara teknis, tapi juga dibekali kemampuan komunikasi visual, strategi kreatif, dan pengalaman industri yang nyata.
Beberapa keunggulan yang bisa kamu dapatkan:
- Program penyaluran kerja dengan dukungan lebih dari 1000 mitra industri dari berbagai sektor
- Magang sejak semester pertama, sehingga pengalaman dan portofolio bisa dibangun lebih awal
- Kurikulum berbasis industri yang disusun sesuai kebutuhan dunia kerja
- Dosen praktisi berpengalaman, sehingga pembelajaran lebih aplikatif dan relevan
Yuk, mulai langkahmu dari sekarang. Kamu bisa konsultasi gratis atau langsung daftar untuk jadi bagian dari generasi kreatif yang siap bersaing di dunia kerja!