Apakah Teknik Informatika Bisa Digantikan AI? Cek Faktanya!

Umum
Tayang 09 February 2026
Diperbarui 09 February 2026
Waktu Baca 9 Minutes

Sudah Direview Oleh Expert

Ditulis oleh

Hasna Latifatunnisa

Perkembangan AI sekarang sudah masuk ke banyak hal yang dulu identik dengan anak IT. Nulis kode bisa dibantu AI, debugging makin cepat, bahkan bikin aplikasi sederhana sudah bisa otomatis.

Di titik ini, wajar kalau Teknik Informatika mulai dipertanyakan relevansinya. Tapi sebelum buru-buru menyimpulkan, ada baiknya kita tau mana yang benar-benar berubah, dan mana yang justru bikin peran manusia di dunia IT makin penting.

Langsung aja kita bahas realitanya di artikel ini!

 

Key Takeaways

 

  • AI tidak menggantikan Teknik Informatika, tapi mengubah cara kerjanya. Coding dasar memang bisa dibantu AI, tapi perancangan sistem, pengambilan keputusan, dan pemahaman konteks tetap membutuhkan manusia.
  • Lulusan IT yang kuat di logika dan adaptif akan selalu dibutuhkan. Skill seperti problem solving, pemahaman sistem, dan kemampuan belajar teknologi baru jauh lebih penting daripada sekadar menguasai satu tools.
  • Pilihan pendidikan yang tepat menentukan kesiapan menghadapi era AI. Di Universitas Cakrawala, pendekatan berbasis industri dan teknologi membantu mahasiswa membangun karier IT yang relevan, siap kerja, dan tahan perubahan.

 

Apakah Teknik Informatika Bisa Digantikan AI?

Jawaban singkatnya: tidak.

AI memang sudah bisa membantu banyak pekerjaan di bidang IT, tapi itu bukan berarti Teknik Informatika akan tergantikan. Hal yang terjadi justru pergeseran peran, dari pekerjaan teknis yang repetitif ke pekerjaan yang lebih strategis dan konseptual.

AI bekerja berdasarkan pola dan data yang sudah ada. Ia bisa menulis potongan kode, memberi saran debugging, atau mengotomatisasi proses tertentu. Tapi AI tidak benar-benar “mengerti” tujuan sistem yang sedang dibangun.

Di sinilah peran lulusan Teknik Informatika tetap krusial. Kamu masih harus:

 

  • Merancang arsitektur sistem
  • Menentukan logika
  • Memastikan teknologi benar-benar sesuai kebutuhan pengguna dan bisnis

 

Selain itu, AI juga tidak berdiri sendiri. Teknologi ini dikembangkan, dilatih, diuji, dan diintegrasikan ke dalam sistem oleh manusia, yaitu oleh orang-orang dengan latar belakang Teknik Informatika dan bidang IT lainnya.

 

Mengapa Banyak yang Mengira Teknik Informatika Akan Digantikan AI?

 

Apakah Teknik Informatika Bisa Digantikan AI

Sumber: Freepik

 

Anggapan ini muncul karena perubahan di dunia IT memang kelihatan sangat cepat, terutama sejak AI makin mudah diakses. Dari luar, seolah-olah banyak pekerjaan anak IT sekarang bisa dilakukan otomatis. Padahal, yang terlihat biasanya hanya permukaan dari proses yang jauh lebih kompleks.

Beberapa alasan kenapa Teknik Informatika sering dianggap bakal tergantikan AI antara lain:

 

  • AI sudah bisa menulis kode: Banyak tools AI sekarang bisa generate kode dalam hitungan detik. Ini bikin muncul kesan bahwa kemampuan ngoding sudah tidak terlalu dibutuhkan lagi, padahal kode yang dihasilkan tetap perlu dicek, disesuaikan, dan diintegrasikan ke sistem yang lebih besar.
  • Munculnya platform no-code dan low-code: Aplikasi sederhana sekarang bisa dibuat tanpa banyak coding. Tapi platform ini hanya cocok untuk kebutuhan terbatas. Untuk sistem skala besar, kompleks, dan aman, peran lulusan Teknik Informatika tetap tidak tergantikan.
  • Otomatisasi di proses software development: Testing, deployment, dan maintenance banyak yang sudah otomatis. Namun otomatisasi ini justru membutuhkan orang IT yang paham alur sistem dan tahu cara mengatur prosesnya.
  • Salah kaprah melihat peran programmer: Banyak yang mengira kerja anak IT cuma nulis kode. Padahal, inti dari Teknik Informatika adalah problem solving, logika, dan perancangan sistem, bukan sekadar mengetik baris kode.

 


 

Cek juga:

 

 


 

Peran Manusia yang Tidak Bisa Digantikan AI

Walaupun AI sudah mampu membantu banyak tugas teknis di bidang IT, ada peran-peran inti dalam Teknik Informatika yang tidak bisa digantikan mesin, termasuk:

 

1. Perancangan Sistem dan Arsitektur Software

Dalam pengembangan sistem, tahap paling krusial justru ada sebelum penulisan kode dimulai, yaitu perancangan sistem. Di tahap ini, manusia menentukan bagaimana sebuah sistem akan dibangun secara menyeluruh, mulai dari struktur, alur data, hingga integrasi antar komponen.

AI bisa membantu menulis bagian kode tertentu, tapi tidak bisa memahami gambaran besar sistem dan dampaknya dalam jangka panjang. Keputusan arsitektur yang salah bisa berdampak besar di masa depan, dan tanggung jawab ini tidak bisa diserahkan ke AI.

Peran manusia di sini meliputi:

 

  • Menentukan arsitektur sistem yang sesuai kebutuhan
  • Memilih teknologi berdasarkan skala, keamanan, dan biaya
  • Merancang sistem agar mudah dikembangkan dan dirawat

 

2. Pengambilan Keputusan Teknis

Dalam dunia IT, hampir tidak ada solusi yang benar-benar “sempurna”. Setiap pilihan teknis selalu punya konsekuensi. AI bisa memberi rekomendasi berdasarkan data atau praktik umum, tapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia.

Pengambilan keputusan teknis bukan soal benar atau salah secara mutlak, tapi soal paling masuk akal untuk situasi tertentu, dan ini membutuhkan pemikiran manusia.

Manusia berperan untuk:

 

  • Menimbang kelebihan dan kekurangan tiap solusi
  • Menyesuaikan keputusan dengan kondisi bisnis dan tim
  • Mengambil risiko yang terukur, bukan sekadar ikut rekomendasi sistem

 

3. Pemahaman Konteks Bisnis dan Pengguna

Sistem IT tidak dibuat hanya untuk berjalan dengan baik secara teknis, tapi juga untuk menyelesaikan masalah nyata. AI bisa memproses data pengguna, tapi tidak benar-benar memahami kebutuhan, kebiasaan, dan tujuan bisnis di baliknya.

Tanpa pemahaman konteks ini, sistem bisa jadi canggih tapi tidak berguna.

Di sinilah peran manusia sangat penting, yaitu:

 

  • Menerjemahkan kebutuhan bisnis ke solusi teknis
  • Memahami masalah pengguna yang tidak selalu tertulis jelas
  • Menyelaraskan fitur teknologi dengan tujuan jangka panjang

 

4. Etika, Keamanan, dan Tanggung Jawab Teknologi

Penggunaan teknologi selalu membawa risiko, mulai dari kebocoran data hingga penyalahgunaan sistem. AI tidak bisa dimintai pertanggungjawaban jika terjadi masalah. Manusialah yang memegang tanggung jawab etis dan hukum atas teknologi yang digunakan.

Selama teknologi masih berdampak langsung ke manusia, peran manusia dalam pengawasan dan tanggung jawab tidak akan tergantikan.

Peran manusia mencakup:

 

  • Menentukan batas penggunaan data dan privasi
  • Menjaga keamanan sistem dari ancaman siber
  • Bertanggung jawab saat sistem gagal atau menimbulkan dampak

 

5. Kreativitas dan Inovasi Solusi

AI bekerja berdasarkan pola yang sudah ada, sedangkan manusia mampu menciptakan solusi baru yang benar-benar berbeda. Dalam Teknik Informatika, inovasi sering muncul dari cara berpikir kreatif dan memahami masalah dari sudut pandang baru.

Inilah alasan utama kenapa peran manusia di bidang IT tidak bisa digantikan AI, meskipun teknologinya terus berkembang.

Peran manusia di sini meliputi:

 

  • Merancang solusi baru untuk masalah yang belum pernah ada
  • Menggabungkan teknologi dengan ide kreatif
  • Mengembangkan produk dan layanan digital yang unik

 

Mengapa Teknik Informatika Justru Semakin Dibutuhkan di Era AI?

Dibandingkan mengurangi kebutuhan tenaga IT, perkembangan AI justru mendorong permintaan lulusan Teknik Informatika. Alasannya sederhana: AI tidak muncul begitu saja. Teknologi ini dirancang, dikembangkan, diintegrasikan, dan dipelihara oleh manusia dengan latar belakang IT.

Beberapa alasan kenapa Teknik Informatika makin dibutuhkan di era AI antara lain:

 

  • AI dibangun oleh orang IT: Mulai dari pengembangan model, integrasi ke sistem, sampai pengujian dan deployment, semua membutuhkan pemahaman algoritma, struktur data, dan sistem.
  • Kebutuhan sistem digital terus meningkat: Perusahaan dari berbagai sektor makin bergantung pada aplikasi, platform digital, dan sistem berbasis data. AI justru menambah kompleksitas sistem, bukan menyederhanakannya.
  • Peran IT bergeser ke level yang lebih strategis: Dengan tugas teknis dasar dibantu AI, lulusan Teknik Informatika bisa fokus ke perancangan sistem, optimasi performa, keamanan, dan pengambilan keputusan teknis yang berdampak besar.
  • AI butuh integrasi ke sistem nyata: Model AI tidak akan berguna tanpa dihubungkan ke aplikasi, database, dan infrastruktur yang stabil. Peran ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang paham sistem secara menyeluruh.
  • Masalah baru terus bermunculan: Transformasi digital menciptakan tantangan baru: keamanan data, etika teknologi, skalabilitas sistem, dan reliability. Semua ini membutuhkan solusi dari manusia, bukan sekadar otomatisasi.

 

Skill Teknik Informatika yang Aman dari Ancaman AI

Di era AI, skill yang paling aman bukan yang sekadar teknis dan repetitif, tapi yang menuntut cara berpikir, pemahaman sistem, dan kemampuan adaptasi. Berikut skill Teknik Informatika yang tetap relevan dan sulit digantikan AI:

 

  • Problem solving dan computational thinking: Kemampuan memecah masalah kompleks menjadi solusi logis dan terstruktur. AI bisa membantu, tapi manusia yang menentukan arah penyelesaian masalahnya.
  • Pemahaman sistem dan arsitektur software: Mengerti bagaimana sebuah sistem bekerja secara menyeluruh, dari backend, frontend, database, hingga infrastruktur. Skill ini penting untuk membangun sistem yang stabil dan scalable.
  • Kemampuan analisis dan logika bisnis: Menghubungkan kebutuhan bisnis dengan solusi teknologi. Tidak semua masalah butuh AI, dan tidak semua solusi teknis cocok untuk tujuan bisnis tertentu.
  • Adaptasi terhadap teknologi baru: Dunia IT berubah cepat. Lulusan Teknik Informatika yang siap belajar teknologi baru akan selalu relevan, apa pun tools atau tren yang muncul.
  • Kolaborasi dan komunikasi lintas tim: Bekerja dengan tim non-teknis, stakeholder, dan pengguna membutuhkan komunikasi yang jelas. Skill ini tidak bisa digantikan AI.
  • Kesadaran keamanan dan etika teknologi: Memahami risiko keamanan, privasi data, dan dampak teknologi terhadap pengguna. Aspek ini makin penting di era AI dan digital.

 

Profesi IT Baru yang Muncul Karena AI

Perkembangan AI bukan cuma mengubah cara kerja profesi IT yang sudah ada, tapi juga melahirkan peran-peran baru. Profesi ini muncul karena perusahaan butuh orang yang bukan hanya paham teknologi, tapi juga bisa mengelola, mengembangkan, dan mengarahkan penggunaan AI dengan benar.

Berikut beberapa profesi IT baru yang muncul dan makin dibutuhkan karena AI, lengkap dengan contoh industri dan perusahaannya:

 

  • AI Engineer: Bertugas mengembangkan, melatih, dan mengintegrasikan model AI ke dalam sistem aplikasi. Profesi ini banyak dibutuhkan di perusahaan teknologi dan startup berbasis AI seperti Google dan OpenAI.
  • Machine Learning Engineer: Fokus pada pengolahan data, pembuatan model machine learning, dan optimasi performa model agar bisa digunakan secara nyata. Peran ini umum di perusahaan teknologi besar dan platform digital seperti Meta dan Amazon.
  • Data Engineer: Bertanggung jawab menyiapkan infrastruktur data yang dibutuhkan AI, mulai dari data pipeline, database, hingga sistem penyimpanan. Profesi ini banyak dibutuhkan di perusahaan e-commerce dan fintech seperti Tokopedia dan Gojek.
  • Prompt Engineer: Berperan menyusun instruksi (prompt) yang tepat agar AI menghasilkan output yang sesuai kebutuhan. Profesi ini berkembang seiring penggunaan AI generatif di berbagai sektor, termasuk teknologi, media, dan pemasaran digital.
  • AI Product Specialist: Menjembatani tim teknis dan bisnis dalam pengembangan produk berbasis AI. Profesi ini memastikan teknologi AI benar-benar menjawab kebutuhan pengguna dan pasar, bukan sekadar canggih secara teknis.

 

Tantangan Lulusan Teknik Informatika di Era AI

 

Apakah Teknik Informatika Bisa Digantikan AI

Sumber: Freepik

 

Meski peluang karier di bidang IT makin luas, lulusan Teknik Informatika juga menghadapi tantangan baru di era AI. Tantangan ini bukan untuk dihindari, tapi perlu dipahami sejak awal supaya bisa disiapkan strateginya.

Beberapa tantangan utama yang dihadapi lulusan Teknik Informatika saat ini antara lain:

 

  • Persaingan makin ketat dan global: AI membuka peluang kerja lintas negara. Artinya, lulusan IT tidak hanya bersaing dengan sesama lulusan lokal, tapi juga talenta global dengan skill tinggi.
  • Perubahan teknologi yang sangat cepat: Bahasa pemrograman, framework, dan tools terus berkembang. Skill yang relevan hari ini bisa cepat usang kalau tidak diikuti dengan belajar berkelanjutan.
  • Ekspektasi industri yang makin tinggi: Perusahaan tidak hanya mencari lulusan yang bisa ngoding, tapi juga yang paham sistem, problem solving, dan konteks bisnis.
  • Ketergantungan berlebihan pada AI tools: AI bisa membantu kerja, tapi jika terlalu bergantung tanpa memahami dasar logika dan sistem, justru bisa menjadi bumerang bagi pengembangan skill jangka panjang.
  • Gap antara dunia kampus dan industri: Tidak semua materi kuliah langsung sesuai dengan kebutuhan industri. Lulusan perlu aktif mengasah skill lewat proyek, magang, atau belajar mandiri.

 

Jurusan IT Lain yang Juga Aman dari Ancaman AI

Selain Teknik Informatika, ada beberapa jurusan IT lain yang relatif aman dari ancaman AI karena fokusnya bukan sekadar pekerjaan repetitif, tetapi pada analisis, pengambilan keputusan, dan pengembangan teknologi itu sendiri.

Kabar baiknya, semua jurusan di bawah ini tersedia di Universitas Cakrawala, sehingga bisa jadi alternatif pilihan yang relevan untuk masa depan:

 

  • Jurusan Ilmu Komputer: Berfokus pada fondasi komputasi seperti algoritma, struktur data, dan teori komputasi. Lulusan Ilmu Komputer dibutuhkan untuk merancang dan mengembangkan sistem kompleks, termasuk teknologi AI itu sendiri.
  • Jurusan Sistem Informasi: Berperan sebagai penghubung antara teknologi dan kebutuhan bisnis. Jurusan ini aman dari AI karena lulusannya dibutuhkan untuk analisis kebutuhan, perancangan sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data.
  • Jurusan Artificial Intelligence (AI): Justru menjadi inti dari perkembangan teknologi saat ini. Mahasiswa belajar membangun, melatih, dan mengelola sistem AI, sehingga posisinya bukan tergantikan, tapi mengendalikan teknologi AI.
  • Jurusan Sains Data: Fokus pada pengolahan, analisis, dan interpretasi data. AI membantu prosesnya, tapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan analisis, menafsirkan hasil, dan mengambil keputusan strategis.

 


 

Cek juga:

 

 


 

FAQ

1. Apakah semua coding akan digantikan AI?

Tidak. AI memang bisa membantu menulis kode dasar, mempercepat debugging, dan mengotomatisasi tugas tertentu. Namun, coding bukan sekadar menulis sintaks. Menentukan struktur program, logika sistem, integrasi antar komponen, dan penyesuaian dengan kebutuhan bisnis tetap membutuhkan manusia.

AI bekerja sebagai alat bantu, sementara manusia tetap berperan sebagai perancang dan pengendali sistem.

 

2. Apakah harus jago matematika untuk masuk jurusan IT?

Tidak harus jago, tapi perlu nyaman dengan logika dan cara berpikir sistematis. Matematika di jurusan IT lebih banyak dipakai untuk melatih pola pikir, bukan hitung rumus terus-menerus.

Selama mau belajar dan terbiasa berpikir logis, jurusan IT masih sangat memungkinkan untuk diikuti.

 

3. Bagaimana cara menyiapkan diri agar tidak tertinggal oleh AI?

Kuncinya ada di mindset belajar terus-menerus. Jangan hanya mengandalkan satu bahasa atau tools. Perkuat dasar logika, pahami cara kerja sistem, dan biasakan praktik lewat proyek nyata.

Selain itu, belajar memanfaatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kemampuan berpikir, akan membuat kamu tetap relevan di dunia IT.

 

Hadapi Perubahan AI dengan Bekal IT yang Tepat!

Perkembangan AI menunjukkan dunia IT tidak sedang ditinggalkan, tapi sedang naik level. Pekerjaan teknis yang repetitif memang makin terbantu teknologi, namun peran manusia tetap krusial dalam merancang sistem, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas dampak teknologi yang digunakan.

Di Universitas Cakrawala, pendekatan pendidikan dirancang untuk menjawab perubahan tersebut. Fokusnya bukan hanya penguasaan teori, tetapi juga kesiapan kerja, pemahaman teknologi terkini, dan kemampuan adaptif yang dibutuhkan industri. Dengan lingkungan belajar yang relevan dan terhubung ke dunia kerja, mahasiswa dipersiapkan agar tidak tertinggal oleh perkembangan AI.

Beberapa keunggulan yang bisa kamu dapatkan antara lain:

 

  • Program Penyaluran Kerja: Terhubung dengan lebih dari 1000 perusahaan mitra dari berbagai sektor industri, termasuk industri kimia, manufaktur, dan lingkungan.
  • Magang Sejak Semester Awal: Mahasiswa bisa membangun pengalaman kerja dan relasi industri sejak dini melalui kerja praktik dan project terstruktur.
  • Kurikulum Berbasis Industri: Materi kuliah disusun sesuai kebutuhan dunia kerja, sehingga lulusan SMK lebih mudah beradaptasi.
  • Dosen Praktisi Berpengalaman: Belajar langsung dari pengajar yang sudah lama bekerja di industri, jadi materi yang dipelajari benar-benar aplikatif.

 

Kalau kamu ingin membangun karier IT yang siap kerja dan tahan perubahan teknologi, sekarang waktunya ambil langkah. Cari tahu lebih lanjut atau daftar sekarang, dan mulai perjalananmu bersama Universitas Cakrawala!

Banner Picture

Kategori:

Umum

Cakrawala

Share

Penulis

Hasna Latifatunnisa

Hasna adalah Content Writer dengan lebih dari 4 tahun menulis konten SEO di bidang bisnis, keuangan, teknologi, dan karier. Terampil dalam merancang strategi SEO yang meningkatkan peringkat pencarian dan keterlibatan audiens, penulis ini juga ahli dalam riset kata kunci dan audit konten, memastikan informasi yang disajikan akurat dan relevan untuk pembaca.

Artikel Lainnya
Logo Cakrawala Black

Jl. Kemang Timur No.1, RT.14/RW.8, Pejaten Bar., Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510

© 2023 Cakrawala University. All Rights Reserved.