Oleh Universitas Cakrawala
•
13 February 2024
Bersamaan dengan kemajuan teknologi, berbagai terminologi dalam bidang IT juga semakin mendapatkan popularitas, salah satunya adalah cyber security. Sama seperti peran satpam yang bertugas melindungi fisik rumah, cyber security memiliki peran penting dalam melindungi perangkat, sistem, jaringan, dan data dari berbagai ancaman di dunia maya.
Apa yang sebenarnya dimaksud dengan cyber security? Apa saja jenis-jenis dan ancaman yang mungkin dihadapi terkait dengan keamanan siber? Bagaimana cara memperkuat sistem keamanan tersebut? Mari kita jelajahi penjelasan komprehensifnya berikut ini!
Cyber security merujuk pada gabungan dua kata dalam bahasa Inggris, yakni "cyber" yang mengacu pada dunia maya (internet), dan "security" yang berarti keamanan.
Secara konseptual, cyber security mencakup upaya perlindungan terhadap sistem yang terkoneksi dengan internet, melibatkan aspek perangkat keras, perangkat lunak, dan data yang dimiliki oleh pengguna.
Praktik keamanan siber tidak hanya dilakukan oleh individu, tetapi juga oleh perusahaan dan lembaga lainnya. Tindakan ini bertujuan untuk menjaga keamanan pusat data dan sistem komputerisasi dari potensi akses yang tidak sah.
Strategi keamanan siber yang efektif dapat memberikan lapisan perlindungan yang kuat terhadap serangan yang dirancang untuk mengakses, mengubah, menghapus, atau memeras sistem dan data sensitif pengguna. Keamanan cyber juga memiliki peran kunci dalam mencegah serangan yang bertujuan mengganggu atau bahkan merusak operasi sistem dan perangkat.
Istilah cyber security digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari lingkup bisnis hingga komputasi seluler. Dilihat dari jenisnya, cyber security dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori umum, termasuk:
Keamanan jaringan melibatkan langkah-langkah pengamanan dari potensi penyusup, termasuk penyerang yang dengan sengaja menargetkan sistem dan pihak yang mencari peluang.
Keamanan aplikasi fokus pada menjaga perangkat lunak atau software agar bebas dari ancaman. Penting untuk menangani kerentanan pada software dan aplikasi sejak tahap desain dan pengembangan, jauh sebelum program tersebut digunakan, guna mencegah kerugian besar di masa mendatang. Keamanan informasi diperlukan untuk melindungi integritas dan privasi data, baik selama penyimpanan maupun saat transit.
Keamanan operasional mencakup proses dan keputusan yang terkait dengan penanganan dan perlindungan aset data. Ini melibatkan izin yang dimiliki pengguna saat mengakses jaringan dan prosedur untuk menentukan tempat dan cara penyimpanan atau pembagian data.
Proses mitigasi menjadi kunci untuk kelangsungan bisnis, menentukan langkah-langkah yang akan diambil perusahaan atau organisasi dalam merespons insiden siber atau peristiwa lain yang dapat menyebabkan kehilangan data atau gangguan pada kegiatan operasional. Kebijakan pemulihan menentukan cara perusahaan memulihkan kegiatan operasional dan semua informasi ke kondisi semula, sebelum serangan terjadi.
Edukasi terhadap end-user memegang peranan penting dalam keamanan data, mengingat faktor manusia yang bisa tidak terduga.
Setiap orang dapat secara tidak sengaja memasukkan virus ke dalam sistem jika tidak mematuhi praktik keamanan yang baik. Oleh karena itu, edukasi mengenai cara menghapus atau mengabaikan lampiran email yang mencurigakan, tidak menyambungkan USB drive yang tidak dikenal, mengganti password secara berkala, dan edukasi lainnya merupakan faktor pendukung keamanan di organisasi atau perusahaan.
Bagi mereka yang bekerja menggunakan teknologi dan internet, terdapat sejumlah ancaman cyber security yang perlu diwaspadai. Apa sajakah ancaman tersebut?
Malware adalah perangkat lunak berbahaya, seperti spyware, ransomware, virus, dan worm. Perangkat lunak ini diaktifkan ketika pengguna mengklik tautan atau lampiran berbahaya yang mengarahkannya untuk menginstal perangkat lunak berbahaya.
Merupakan jenis serangan siber yang membuat komputer atau jaringan tidak dapat merespons permintaan. Serangan DoS terdistribusi (Distributed DoS/DDoS) juga memiliki efek serupa, namun serangannya berasal dari sejumlah komputer dalam jaringan. Serangan DDoS dapat menghabiskan bandwidth pengguna dan membuat hubungan antar server terputus alias down. Tanpa penanganan cepat, perangkat lunak dan perangkat keras korban dapat mengalami kerusakan permanen.
Phishing adalah serangan yang dilakukan dengan menggunakan komunikasi palsu, misalnya melalui email, dengan tujuan memperdaya penerima agar membuka dan menjalankan instruksi di dalamnya. Instruksi tersebut dapat mencakup permintaan password atau nomor kartu kredit. Tujuan dari serangan phishing adalah untuk mencuri data sensitif korban atau menginstal malware di perangkat korban, yang dapat menyebabkan kerugian bagi mereka yang terkena dampaknya.
Untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan dalam menghadapi ancaman siber seperti malware, serangan DoS, dan phishing, sangat disarankan untuk mengejar pendidikan formal di bidang Sistem Informasi.
Bergabunglah dengan Cakrawala University di Fakultas Sistem Informasi untuk mendapatkan pengetahuan yang mendalam, mendapatkan panduan dari ahli industri, dan mempersiapkan diri menjadi profesional yang dapat melindungi sistem informasi dari berbagai ancaman siber. Dengan demikian, kamu akan siap menghadapi tantangan di dunia teknologi informasi dan siber.
Baca Juga: Ini Tugas Cyber Security, Skill yang Harus Dikuasai dan Gajinya
Berita Terkait